Islam Di Negara Malaysia Semakin Konservatif


Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad semakin yakin bahwa kondisi Islam di Malaysia kini seperti terkepung dan bakal kehilangan dominansi dalam perpolitikan.

news-graphics-2007-_644322a

Kini agama Islam menjadi sumber perpecahan di dalam negeri Malaysia, karena perkembangan Islam kolot, konservatif, semakin menyeruak belakangan ini. Kelompok Islam konservatif makin vokal. Mereka menuduh kaum non-Muslim dan Islam moderat menyerang dominansi Islam di Malaysia dan orang Melayu secara umum.

Adanya pelarangan penggunaan asma Allah di kalangan Kristen Semenanjung Malaysia telah memicu kontroversi. Karena Kitab Injil yang beredar di Malaysia sejak zaman kolonial banyak yang diimpor dari Hindia Belanda, yang juga menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan.

Sementara di Sabah dan Serawak, di Pulau Kalimantan, penyebutan asma Allah bagi umat Kristen sama sekali tak dilarang.

Sejak tahun 1970an, kelompok-kelompok Islam mulai bersikap konservatif terhadap masalah-masalah hak-hak asasi, hak-hak perempuan dan homoseksualitas, serta hubungan dengan kelompok-kelompok non-Muslim.

Yang monumental adalah ketika Anwar Ibrahim muda membentuk Angkatan Belia Islam Malaysia atau Abim pada 1971, yang makin mendorong Islamisasi kehidupan masyarakat termasuk sistem hukum dan finansial

Sekarang, beberapa kelompok Islam menjadi lebi vokal dan politis. Ada yang intens menyerang politikus oposisi; ada pula kelompok Perkasa yang anggotanya juga anggota partai PM Najib Razak, Umno.

Salah satu kelompok menyebut diri sebagai lembaga swadaya masyarakat “Dewan Islam” yang muncul pada tahun ini, baru-baru ini menyembelih dua ekor ayam sebagai protes terhadap video satire yang menyasar tokoh oposisi Teresa Kok. Ini sebuah langkah yang bisa memicu kekerasan.

Mereka menuduh Teresa sebagai anti-Melayu dan anti-Muslim. Teresa dianggap meledek para pemimpin keturunan Melayu yang tak becus mengurus inflasi dan menampilkan kharakter mirip isteri politikus top Malaysia.

Protes satire atau protes terang-terangan mulai merebak setelah digelar pilihan raya umum Malaysia 2008, saat pemilih Malaysia makin nyata pengkubuannya antara koalisi Barisan Nasional pimpinan Umno dan oposisi Pakatan Rakyat pimpinan Parti Keadilan (Anwar Ibrahim)

Karena partai berbasis ras makin tak laku, dan partai-partai politik kian berbasis multirasial dalam ideologinya, kelompok Islam mengisi jurang pemisah radikal ini yang selama ini memang lowong.

Di Malaysia kini ada kecederungan segala sesuatu dibungkus dalam format agama, baik dalam acara-acara televisi maupun perayaan nasional dan itu menjadi kacamata baca yang memengaruhi cara pandang banyak orang.

LSM Dewan Islam mengklaim terdiri dari 30 LSM yang punya anggota 500.000 orang. Ada lagi Ikatan Muslimin Malaysia (Isma) yang kepincut dengan ideologi gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir. Anggota Isma bisa berasal dari kalangan pegawai negeri hingga profesional. Isma mungkin merasakan umat Islam kini terkepung.

Seorang analis politik Islam Malaysia, Wan Saiful, mengatakan, Isma kini makin vocal karena Islam kini seperti dikepung. “Saya tidak meragukan ketulusan mereka beragama. Tapi mereka menempuh jalan yang salah.

Banyak aktivis Abim (yang didirikan Anwar Ibrahim) kini bergabung dengan Parti Islam SeMalaysia (PAS) dan berkoalisi dengan Parti Keadilan (pimpinan Anwar) membentuk koalisi Pakatan Rakyat. Abim maupun PAS termasuk kategori Islam moderat, dibanding kelompok-kelompok Islam lain.

Banyak yang bilang kelompok-kelompok Islam ini merupakan langkah kebablasan Umno. Mereka menjadi semacam “subkontraktor” yang melakukan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan Umno.

Namun pendapat semacam ini ditampik oleh Wan Saiful. Keanggotaan Isma dan Perkasa mungkin tumpang tindih dengan keanggotaan di Umno dan PAS. Isma dan PAS melihat diri mereka bukan meladeni kepentingan partai mana pun. Mereka malah melihat partai politik sebagai kendaraan yang bisa dipakai untuk menyusupkan barang bernama ideologi Islam yang mereka usung.

Ada yang bilang kelompok-kelompok Islam ini lebih banyak berisiknya daripada substansinya. Terbukti dua pemimpin Perkasa tak terpilih dalam Pilihah Raya Umum 2013.

Cap ultra-konservatisme sudah mengalir pada arus utama Islam di Malaysia, dan mereka mendengarkan nasihat Mahathir: “Islam akan akan kehilangan dominasinya jika orang Melayu kehilangan pengaruh politiknya”.

Iklan

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: