BABAK BARU PERTARUNGAN SBY & ANAS


Muhammad Nazaruddin tiba ke tanah air, membuka episode baru ;pertarungan’ SBY (Ketua Dewan Pembina Demokrat) dengan Anas Urbaningrum (Ketua Umum DPP Demokrat). Sejak terpilihnya Anas sebagai Ketua Umum beberapa waktu lalu, sebenarnya aroma perang dingin menyeruak di antara mereka.

Celah-celah ketidaksinkronan sangat mudah diraba. Anas banyak dikabarkan sedemikian kuat membangun jaringan ke akar dewan pimpinan cabang (DPC) di lingkungan partainya untuk eksistensi pribadinya. Isupun bergulir, Anas juga berusaha mendominasi lembaga partai melaui jaringan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Faktual atau tidak, hal tersebut tentunya membuat SBY tidak nyaman.

Ayunan langkah tidak sejalan semakin dipertontonkan Anas (baca: DPP) dalam menangani kasus Muhammad Nazaruddin. Pergulatanan Dewan Pembina dan DPP sedemikian mencolok di mata publik. Apa yang diminta Ketua Dewan Pembina sering dimentahkan saja oleh DPP. Misalnya saja SBY meminta agar Nazaruddin dijemput saat melarikan diri ke Singapura, direaksi sangat lambat oleh DPP bahkan jelas-jelas dikatakan tidak ada yang namanya tim penjemput melainkan hanya tim komunikasi.

Akibat Ketua Umum DPP PD yang setengah hati menangani Nazar, membuat partai pemenang pemilu ini semakin tercabik-cabik. Dari tempat pelariannya, Nazar melempar berbagai tudingan ke koleganya dengan tuduhan dugaan korupsi, suap, intervensi maupun money politik. Bahkan borok pengurus partai yang disampaikan Nazar semakin menyayat hati rakyat. Ulah Nazar membuat kepercayaan publik terhadap PD merosot dan tentu saja wibawa Ketua Dewan Pembina sering dijadikan bahan olok-olok.

Melalui otoritasnya, SBY berusaha sekuat tenaga menggerakkan semua elemen dan akhirnya tertangkaplah Nazar Di Kolumbia. Kenapa SBY ngotot Nazar ditangkap? Tindakan tersebut tidak semata-mata untuk membuka kebenaran di Indonesia, tetapi yang lebih substansi bagi SBY, bagaimana agar Ketua DPP dan jajarannya bisa kembali dalam kendali Ketua Dewan Pembina. Untuk penanganan kasus-kasus lain, SBY tidak seserius ini menggerakkan lembaga-lembaga terkait.

Berbagai cara halus sepertinya sudah dilakukan SBY terhadap DPP. Mengumpulkan pengurus di Cikeas, memberi wejangan dan lainnya, namun hasilnya tak ada. Beberapa lalu saat para pengurus dikumpulkan di Cikeas agar tidak saling serang, bukannya kata siap yang didapat tetapi justru kubu-kubuan makin menjadi. Akhirnya sesama kader sibuk pro kontra tentang isu Mr. A yang dilempar Ramadhan Pohan. Saat Rakornas pun juga demikian. SBY meminta agar kader-kader bermasalah segera hengkang atau ditertibkan. Ternyata hingga hari ini tidak ada aksi nyata yang dilakukan Ketua Umum terhadap jajaran DPP yang dianggap bermasalah. Melihat ketidaksungguhan DPP mereaksi harapan SBY selaku Ketua Dewan Pembina, maka saya berpikiran bahwa ke depannya, Anas akan dilengserkan dari ketua umum partai.

Melalui tangan dinginnya, SBY akan menangani Anas dengan bersandar pada supremasi hukum. Memakai asumsi bukti-bukti yang dimiliki Nazarudin, cepat atau lambat akan mengarahkan Anas ke kursi pesakitan. Bila Nazar mampu menggiring Anas ke status tersangka, maka dengan alasan tuntutan demokrasi yang sehat, mau tidak mau Anas mesti mundur atau non aktif sebagai Ketua Umum.

Persoalannya apakah Anas akan diam saja? Tentu tidak. Walaupun ia relatif muda, tetapi mempunyai jiwa militansi yang luar biasa. Indikatornya jelas terlihat pada saat pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat. Sebagai sosok yang tidak ‘diharapkan’ oleh SBY, ternyata ia menang telak. Untuk kasus ini, Anas menunjukkkan sebagai sosok ulung bahkan kalau di zaman babad ia termasuk yang sakti mandraguna. Namun dalam hal lain, Anas kalah tuwo dibanding SBY

Apabila dalam perlawanannya Anas mampu ‘mengiggit’ kerabat dekat istana, cerita bisa berbelok. Pada titik ini Anas akan terbebas dari belitan politik yang mematikan dan bisa muncul kompromi-kompromi baru. Apakah hal tersebut mungkin? Jawabannya kecil sekali. Sigapnya KPK berserta koleganya, menujukkan bahwa SBY dan kerabatnya akan dibentengi secara luar biasa oleh berbagai pihak sehingga sulit tersentuh. Lihat saja, Nazaruddin sebelumnya melempar tuduhan adanya gelontoran uang ke Eddy Bhaskoro (Ibas, putra SBY), kemudian mencabut pernyataannya dan tegas dikatakan Ibas tidak terlibat. Hal ini menunjukkan, kemungkinan sudah terjadi konspirasi.

Yang terbaru adalah statemen KPK bahwa KPK tidak segan-segan akan memproses Anas apabila ada dua alat bukti yang cukup. Petinggi KPK, kebiasaannya memberi pernyataan yang tidak temperamental. Namun sejak Nazar ditangkap, KPK seolah begitu sigap siap membidik Anas. Posisi Anas memang dilematis. Di internal PD yang berkaitan dengan publik masih carut marut. Kebohongan publik yang dilakukan TPF bahwa Nazar tidak terlibat suap belum clear. Kebohongan publik oleh elit PD bahwa Nazar sakit dan turun berat badannya 18 kg juga masih mengganjal. Kelambatan DPP PD memecat Nazar dari DPR membuahkan pil pahit karena Nazarlah satu-satunya anggota DPR yang terhormat yang buron dan diborgol. Di saat kredibilitas pengurusnya dipertanyakan, Anas akan sibuk mempertahankan diri dari serangan Nazaruddin.

Sementara itu posisi Ketua Dewan Pembina kembali diatas angin. Untuk memformat ulang kepengurusan DPP, SBY tidak perlu memakai tangan sendiri. Tangan-tangan hukum sudah siap bekerja. Pertarungan panjang ini juga tidak lepas akibat ulah tangan lainnya yaitu tangan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD yang berkirim surat ke ketua Dewan Pembina PD bahwa Nazar diduga menyuap sekjen MK. Surat Mahfud pun berfungsi seperti layaknya ‘Kuda Troya’ dan memang berhasil efektif. Sejak adanya surat Mahfud itulah prahara dan huru hara terjadi di PD. Kalau mencermati benang merah tersebut, terlihat jelas bahwa SBY memang benar-benar lihai di rimba persilatan politik.Ia dengan sangat hati-hati berusaha memposisikan dirinya sebagai sosok demokrat sejati, sehingga lawan-lawan politiknya tetap akan ’dihajar’ dalam koridor demokrasi.

Bila kehadiran Nazar di tanah air, membuat sosok Anas menjadi mati langkah, maka selanjutnya SBY sebagai Ketua Dewan Pembina PD tinggal menempatkan sosok yang pangerten terhadap kemauan founding fathers PD di posisi Ketum dan pengurus DPP lainnya. Sosok tersebut pastinya sudah ada dan tinggal meng- on- kan saja. Kalau ini sudah terwujud, tinggal mengembalikan kepercayaan publik kepada Partai Demokrat. Saya yakin SBY akan berhasil menaikkan lagi rating PD, karena memang ahli dibidang mengembalikan kepercayaan publik apalagi ia paham betul psikologi bangsa ini.

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: