Peran Pemerintah dan Kebrutalan Organisasi


Kebebasan berorganisasi merupakan salah satu capaian terpenting dari
perjuangan rakyat Indonesia melawan rezim militeristik Orde Baru.
Situasi organisasi kemasyarakatan sebelumnya terkungkung oleh kebijakan
represif yang tercantum dalam paket lima Undang-Undang Politik,
khususnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985, yang dilengkapi alat-alat
kekerasannya.

Kini, dalam batas yang relatif lebih longgar,
organisasi-organisasi telah bebas didirikan, bebas menghimpun anggota,
menentukan arah, tujuan, serta bentuk atau metode perjuangan. Datangnya
kebebasan ini telah memperluas kesempatan bagi rakyat untuk membangun
inisiatif pendirian organisasi yang mandiri pada berbagai level,
sehingga masyarakat memperoleh kesempatan untuk bersosialisasi secara
demokratis, serta menemukan pengalaman dan pengetahuan yang berguna bagi
perjuangan kolektifnya.

Namun ternyata kebebasan ini juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang
anti-demokrasi dan anti persatuan nasional. Mereka membangun organisasi
kemasyarakatan—umumnya berbasis primordial—untuk memprovokasi
terjadinya konflik antar suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA).
Bahkan, dengan dukungan tak langsung berupa pembiaran oleh penguasa,
beberapa di antara ormas ini telah berkembang pesat, menjadi terkenal
ataupun merekrut anggota dalam jumlah yang cukup besar. Perkembangan ini
mengkhawatirkan, karena kebebasan politik menjadi anomali;
pengorganisasian politik yang kerakyatan mengalami kemandegan, sementara
kelompok milisi yang sempit pikirannya seakan siap memberangus capaian
kebebasan politik itu sendiri.

Dalam situasi demikian, kita mendengar keinginan dari sejumlah kalangan
dalam lingkaran kekuasaan untuk menerbitkan peraturan perundang-undangan
yang mengatur masalah ke-ormas-an. Di antaranya adalah usulan merevisi
perangkat rezim orba, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Ormas
agar dapat diberlakukan kembali. Banyak alasan sebagai pembenaran.
Menteri koordinator bidang politik dan keamanan, Djoko Suyanto, kembali
menyebut istilah-istilah karet yang kerap dipakai pada zaman orba,
seperti untuk memulihkan “ketentraman dan ketertiban umum” atau
membungkam ormas yang “tidak sejalan dengan kebijakan
pemerintah”. Sementara Dirjen Kesbangpol Depdagri, Sudarsono
Hardjosoekarto, berdalih rencana revisi ini untuk melindungi ormas dari
“ancaman terorisme” dan “pencucian uang”.

Rencana ini menimbulkan tanda tanya baru, apa sesungguhnya motif di
balik alasan-alasan yang berbeda tersebut. Sungguhkah obat bagi
tindakan-tindakan brutal ormas tertentu adalah digunakannya kembali
instrumen hukum untuk mengontrol? Apakah benar Undang-Undang ini
nantinya digunakan untuk melindungi ormas dari “ancaman
terorisme” dan “pencucian uang”? Kami tidak melihat
indikasi-indikasi tersebut. Justru kehadiran peraturan semacam ini dapat
menjadi bumerang bagi kekuatan-kekuatan progresif.

Seturut perkembangan zaman, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 sudah tak
layak digunakan, bahkan dengan revisi sekalipun. Karena itu perangkat
ini harus dicabut sama sekali, bukan direvisi. Jaminan terhadap
kebebasan berorganisasi pun harus dipulihkan oleh negara dengan tidak
mengeluarkan produk perundang-undangan yang bertentangan dengan amanat
pasal 28 konstitusi Republik Indonesia. Sementara bagi para pelaku
tindak kekerasan atau tindakan anti demokrasi yang berlindung di balik
ormas-ormas dimaksud, sepantasnya dikenai hukuman langsung ke
individu-individu pelaku. Persoalan keberadaan ormas yang berperilaku
tidak beradab seharusnya dapat ditangani melalui tindakan tegas
pemerintah, tak perlu sebuah undang-undang baru buat mengaturnya.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: