Nasionalisme Semu


Ketika sebagian besar media nasional membesar-besarkan ketegangan antara
Jakarta-Kuala Lumpur, maka sebagian kalangan masyarakat pun seperti
mabuk kepayang nasionalisme. Namun, dalam berbagai aksi-aksi protes dan
pernyataan-pernyataan politiknya, para penyulut nasionalisme
anti-malaysia ini seperti melemparkan api pada ranting basah.

Merasa bahwa kepentingannya tidak berkaitan langsung dengan seruan
anti-Malaysia itu, sebagian besar rakyat kita tetap menyibukkan diri
pada persoalan pribadi, yaitu persoalan memenuhi kebutuhan ekonomi dan
material lainnya. Kaum nasionalis kemarin sore ini tidak mengetahui,
bahwa berbagai persoalan ekonomi dan politik di dalam negeri, misalnya
kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan sebagainya, telah membuat massa
rakyat kehilangan sedikit kebanggaan nasionalnya.

Pada tahun 1926, Bung Karno pernah menulis dalam karyanya
“Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, bahwa nasionalisme itu
adalah sebuah itikad; suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu satu
golongan, satu “bangsa”. Keinsyafan dan ketetapan hati inilah
yang, menurut Bung Karno, menyulut perjuangan kaum
revolusioner-nasionalis dalam usahanya mencari Indonesia merdeka.

Persoalan kunci tetap mengacu pada berbagai hal di dalam negeri.
Kekacauan dalam bidang ekonomi dan politik, sedikit demi sedikit telah
memudarkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan SBY dan kebijakan
kepemimpinannya. Ada kesenjangan yang terlalu lebar antara tuntutan
moral rakyat untuk berjuang dan kenyataan di lapangan ekonomi, politik,
dan budaya.

Menurut kami, bangsa Indonesia telah mengalami proses penjajahan ulang
(rekolonialisme) sejak Soeharto mengambil-alih kekuasaan, dan situasinya
semakin diperparah dalam sepuluh tahun terakhir ini. Jika diibaratkan
dengan rumah yang disatroni perampok, kita baru berteriak
“perampok” tatkala seluruh barang-barang berharga milik kita
sudah habis dirampok.

Padahal, menurut bung Karno, nasionalisme Indonesia adalah
sosio-nasionalisme. Tujuan utama “sosio nasionalisme” adalah
perjuangan untuk kemerdekaan penuh, dan dihancurkannya sistim
kolonialisme dan imperialisme. Jika kita perhadapkan dengan kenyataan
sekarang, persoalan kolonialisme dan imperialism justru melekat dalam
pemerintahan nasional di Indonesia. Dengan mengadopsi kebijakan
neoliberal secara konsisten, maka pemerintahan SBY-Budiono merupakan
perpanjangan tangan dari kepentingan neo-kolonialisme dan imperialisme.

Dengan begitu, apa yang terjadi sekarang ini tidak lebih sebagai
ekspresi dari sebuah nasionalisme semu, sebuah nasionalisme yang sempit
dan cenderung chauvinis. Mengobarkan perang dengan Malaysia tidak ada
kaitannya dengan keinsyafan karena persamaan nasib, melainkan
semata-mata timbul sebagai kesombongan suatu bangsa belaka.

Meski begitu, bukan berarti kita mengamini atau mendiamkan berbagai
pelanggaran Malaysia terhadap kedaulatan dan kemanusiaan rakyat
Indonesia. Namun, bagi kami, persoalannya adalah kepada siapa protesitu
paling utama diarahkan. Kita harus marah tidak saja kepada perampok yang
telah menjarah harta milik kita, melainkan juga kepada penjaga rumah
yang membiarkan perampokan itu terjadi dengan begitu mudah. Dalam hal
ini, kita harus menuntut pemerintah SBY bertanggung-jawab atas berbagai
pelanggaran territorial yang terjadi; bertanggung-jawab terhadap 345 WNI
yang terancam di hukum mati di Malaysia; bertanggung jawab atas berbagai
kasus kekerasan terhadap TKI Indonesia di Malaysia, dan lain sebagainya.

Pendek kata, kita akan terus mendesak SBY untuk bertindak tegas terhadap
Malaysia. Jika SBY tidak sanggup atau tidak berani untuk melakukan itu,
maka itu berarti memang saatnya kita menuntut pergantian presiden atau
kepemimpinan nasional. Kita membutuhkan kepemimpinan nasional yang
memperjuangkan kemandirian nasional di bidang politik, ekonomi, dan
budaya.

Terakhir, menutup editorial kali ini, mari kita menanamkan pernyataan
Nehru yang sering dikutip oleh Bung Karno, “for a fighting nation
there is no journey’s end”. Ya, kita akan tetap memperjuangkan
Indonesia sebagai bangsa yang berjuang, bangsa yang membanting tulang,
tanpa mengenal akhir.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: