Kriminalitas di Bulan Ramadhan


Memaraknya aksi perampokan belakangan ini telah menarik perhatian
publik. Terdapat suatu ironi pahit bahwa ini terjadi justru pada bulan
Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan kedamaian bagi umat Muslim
khususnya.

Selain itu masyarakat juga dikejutkan oleh penggunaan senjata
api oleh para perampok; terutama dalam kasus perampokan bank di Medan
pada 18 Agustus lalu. Layaknya tentara dalam kancah peperangan,
gerombolan perampok ini menjalankan aksinya dengan dingin dan tanpa
sungkan menghabisi nyawa seorang aparat keamanan. Di samping itu,
hari-hari belakangan ini juga menjadi saksi dari aksi-aksi perampokan
secara meluas dengan menggunakan senjata yang lebih sederhana.

Memang sudah umum diketahui bahwa terjadi peningkatan kriminalitas
menjelang Idul Fitri. Namun juga penting untuk mempertegas kembali cara
pandang seperti apa yang perlu diambil dalam meletakkan persoalan ini.
Kita perlu melangkah lebih jauh daripada sekedar memaklumi peningkatan
kriminalitas yang mengkhawatirkan ini. Seluruh pihak perlu menekan
kecenderungan negatif ini dengan pertama-tama membidik penyebab-penyebab
utamanya.

Peningkatan kriminalitas menjelang Hari Raya Idul Fitri dapat mengungkap
beberapa aspek penting tentang masyarakat kita, bila memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari aspek ekonomi, peningkatan
kriminalitas sejalan dengan meningkatnya peredaran uang dan aktivitas
ekonomi yang lazim terjadi menjelang Hari Raya, yang antara lain dipicu
oleh pemberian Tunjangan Hari Raya. Mereka yang memiliki pekerjaan tetap
dan berpenghasilan cukup tinggi akan merasakan berkah dari tambahan
pemasukan ini dan meningkatkan pembelanjaannya sesuai dengan tuntutan
kebutuhan Hari Raya yang lebih tinggi dari biasanya. Sementara mereka
yang berpenghasilan rendah atau tak memiliki pekerjaan tetap –
sehingga tak mendapatkan THR – tidak merasakan berkah seperti itu,
bahkan justru tertekan oleh meningkatnya kebutuhan dan harga-harga. Ini
mencerminkan ketidak-beresan distribusi kekayaan yang ada dalam
masyarakat; karena peningkatan daya beli, bukannya memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat, justru memperuncing ketimpangan ekonomi
dan dengan begitu mendorong kriminalitas.

Dari aspek budaya, tekanan yang dirasakan oleh masyarakat menjelang Hari
Raya diperparah oleh budaya konsumeris yang digalakkan melalui media dan
iklan. Tujuan dari ini adalah untuk terus menerus menciptakan
kebutuhan-kebutuhan baru yang akan memancing orang untuk membelanjakan
uangnya. Upaya ini ditopang dengan pemberian kredit yang persyaratannya
ringan. Dengan dibarengi oleh peningkatan angka pengangguran dan dengan
begitu menurunnya penghasilan, maka yang tercipta adalah suatu
masyarakat yang terlilit utang. Kefrustrasian antara tingginya kebutuhan
dan rendahnya pendapatan inilah yang memicu peningkatan kriminalitas,
terutama di antara mereka yang secara ekonomi tak diuntungkan.

Penjelasan di atas mungkin dapat dijadikan latar belakang dari maraknya
kriminalitas menjelang Hari Raya. Memang, itu tidak dapat menjelaskan
penyebab penggunaan senjata api berat dalam aksi perampokan seperti yang
terjadi di Medan, yang berjalan cukup canggih dan memang bukan tidak
mungkin bernuansa politis. Dalam peristiwa-peristiwa kriminal dan
terorisme seperti itu, asal muasal persenjataan atau bahan peledak yang
digunakan merupakan faktor penting yang dapat memberikan gambaran
tentang otak di balik itu semua. Apalagi mengingat bahwa peredaran
senjata di Indonesia tidaklah dibebaskan dan memerlukan perijinan yang
ketat dari pihak berwenang.

Persoalan kriminalitas tak dapat dipungkiri merupakan bagian dari
persoalan masyarakat secara umum yang penanggulangannya harus melibatkan
berbagai aspek antara lain hukum, sosial, budaya, ekonomi dan politik.
Pertama, pemberantasan kriminalitas – korupsi termasuk di dalamnya
– tidak akan berjalan sungguh-sungguh bila tidak mencakup
pembersihan jajaran pemerintah dari malpraktek tersebut. Ibarat menyapu
maka adalah terbaik untuk memulai dari atas dan berlanjut ke bawah.

Kedua, secara historis upaya ini berjalan seiring dengan upaya
penuntasan kemiskinan, yang dalam berbagai tradisi dan agama diwujudkan
dalam bentuk amal, sedekah, zakat, dsb. Namun upaya ini tak boleh
berhenti di situ dan perlu mengambil bentuk-bentuk yang lebih politis
dan kultural demi mengubah kebijakan pemerintah yang menyebabkan
kemiskinan, serta membangun suatu budaya yang mandiri dan berlandaskan
solidaritas.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: