Kitab Talmud dan Yahudi


Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Taurat. Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Yahudi Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya.

Itu pula sebabnya mengapa negara Yahudi Israel disebut sebagai negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik. Untuk dapat memahami sepak-terjang negara Israel yang tampak arogan, keras-kepala, tidak kenaI kompromi, orang perlu memahami isi ajaran Kitab Talmud, yang diyakini oleh orang Yahudi sebagai kitab suci yang
terpenting di antara kitab-kitab suci mereka. Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan
kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”. Para pendeta Talmud mengklaim sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara
tertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa a.s. mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal) termasuk mereka yang mengajarkannya (para pendeta Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru. para pendeta Parisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (pendeta), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung isi Taurat. Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip pemyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa
“Tanpa Talmud kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat … Tuhan telah
melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisi merupakan
suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat
tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan
mungkin mampu memahami Taurat.” Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat saja (Perjanjian Lama yang sekarang) Mereka ini disebut golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya
paling dibenci dan menjadi korban didzalimi oleh para pendeta Yahudi orthodoks.

Kepada tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi
yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” para pendeta). Tradisi ‘mishnah’
(yang kemudian dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, disebut Talmud. Ada dua
buah versi Kitab Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’.
‘Talmud Babilonia’ dipandang sebagai kitab yang paling otoritatif1.

Beberapa kutipan yang diangkat dari Kitab Tamud dalam uraian berikut ini
merupakan dokumen aseli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan dapat
memberikan pencerahan kepada segenap ummat manusia, termasuk kaum Yahudi,
tentang kesesatan dan rasisme dari ajaran Talmud yang penuh dengan
kebencian, yang menjadi kitab suci baik bagi kaum Yahudi Orthodoks maupun
Hasidiyah di seluruh dunia.

Pelaksanaan ajaran Talmud tentang keunggulan kaum Yahudi yang dldasarkan
pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang tak terperikan
terhadap orang lain sepanjang sejarah ummat manusia sampai dengan saat ini,
khususnya di tanah Palestina. Ajaran itu telah dijadikan dalih untuk
membenarkan pembantaian secara massal penduduk sipil Arab-Palestina. Kitab
Talmud menetapkan bahwa semua orang yang bukan-Yahudi disebut “goyyim”, sama
dengan binatang, derajat mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah
“ummat pilihan”, satu-satunya ras yang mengklaim diri sebagai keturunan
langsung dari Nabi Adam a.s. Marilah kita periksa beberapa ajaran Talmud.

Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di
neraka”.

Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu
kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia tidak dikenal
orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana” Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghujat Tuhan Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang
kafir itu harus dibunuh” Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir
yang bekerja baginya”. Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi

Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang
Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai
melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti
rugi sepenuh-penuhnya”.

Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b),

Sanhedrin 57a, “Tuhan tidak akan mengampuni seorang Yahudi ‘yang mengawinkan
anak-perempuannya kepada seorang tua, atau memungut menantu bagi
anak-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir)’ …”.

Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati, Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”. Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada Bani Israel”.

Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”. Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan
binatang”.

Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis)
sejak lahir”. Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan
lembu”.Ajaran Gila di dalam Talmud Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan tubuh ambil debu yang berada di bawah bayang-bayang jamban, dicampur dengan madu lalu dimakan“.

Shabbath 41a, “Hukum yang mengatur keperluan bagaimana kencing dengan cara
yang suci telah ditentukan”. Yebamoth 63a, ” … Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”. Yebamoth 63a, “…menjadi petani adalah pekerjaan yang paling hina “.

Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi boleh mengawini anak-perempuan berumur tiga
tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”. Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak-perempuan, asalkan saja anak itu berumur di bawah sembilan tahun”.

Kethuboth 11b, “Bilamana seorang dewasa bersetubuh dengan seorang anak
perempuan, tidak ada dosanya”. Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan
Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan
seorang pendeta Yahudi”. Abodah Zarah 17a, “Buktikan bilamana ada pelacur seorangpun di muka bumi ini yang belum pernah disetubuhi oleh pendeta Talmud Eleazar”.

Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang akan mas
uk neraka”. Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya.
Tuhan pun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.

Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan, ‘Sekeluarnya seseorang dari jamban,
maka ia tidak boleh bersetubuh sampai menunggu waktu yang sama dengan
menempuh perjalanan sejauh setengah mil, konon iblis yang ada di jamban itu
masih menyertainya selama waktu itu, kalau ia melakukannya juga
(bersetubuh), maka anak-keturunannya akan terkena penyakit ayan”.

Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur kotoran seekor
anjing berbulu putih dan campur dengan balsem; tetapi bila memungkinkan
untuk menghindar dari penyakit itu, tidak perlu memakan kotoran anjing itu,
karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi lemas “.

Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon kurma,
berdiri di antara dua orang laki-laki. Karena musibah khusus akan datang
jika seorang perempuan sedang haid atau duduk-duduk di perempatan jalan “.

Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi diwajibkan membaca doa berikut ini setiap
hari, ‘Aku bersyukur, ya Tuhanku, karena Engkau tidak menjadikan aku seorang
kafir, seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “.

Kisah-kisah Holocaust oleh Romawi Di dalam Talmud, ayat Gittin 57b ada dikisahkan tentang dibantainya 4 juta orang Yahudi oleh orang Romawi di kota Bethar. Gittin 58a, mengklaim bahwa 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus ke dalam satu gulungan dan dibakar
hidup-hidup oleh orang Romawi. Demografi tentang zaman kuno menyatakan orang Yahudi di seluruh dunia pada masa penjajahan oleh Romawi tidak sampai berjumlah 16 juta, bahkan 4 juta
pun tidak ada). Pengakuan Talmud Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi ditanya, apakah anggur yang dicuri di Pumbeditha boleh diminum, atau anggur itu sudah dianggap najis, karena
pencurinya adalah orang-orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh
guci anggur, maka anggur itu dianggap sudah najis). Rabbi itu menjawab,
tidak perlu dipedulikan, anggur itu tetap halal (‘kosher’) bagi orang
Yahudi, karena mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana
guci-guci anggur itu dicuri, adalah orang-orang Yahudi”. (Kisah ini juga
ditemukan di dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah 25b).

Ibadah Orang Farisi Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata kepadanya, ‘Berikan saya air untuk mencuci tangan saya’. Ia menjawab, ‘Air itu tidak cukup bahkan untuk diminum,
apalagi untuk membasuh tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat
?’ tanya seseorang lainnya, ‘padahal engkau tahu menentang ucapan seorang
rabbi diancam dengan hukuman mati?’ ‘Saya lebih baik mati daripada menentang
pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terekam dikutuk Nabi
Isa a.s. dalam Injil Matius 15 : 1- 9). Genosida Dihalalkan oleh Talmud

Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon
ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (“Bahkan orang kafir yang baik sekali
pun seluruhnya harus dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti
acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan
penghormatan kepada rabbi yang telah menganjurkan untuk menghabisi
orang-orang non-Yahudi2.

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat
Israel, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membantai
40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat
di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang
menyatakan kepada kantor berita CBS News, bahwa ajaran yang dianutnya
mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran
Talmud”.3 Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universitas Jerusalem
menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah
teiah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka diwajibkan untuk melakukan
kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang
non-Yahudi”.4

Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi
dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”.5 Rabbi Jacov Perrin berkata, “Satu
juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang
Yahudi”.6

Doktrin Talmud : Orang non- Yahudi Bukanlah Manusia Talmud secara spesifik menetapkan orang non-Yahudi termasuk golongan binatang, bukan-manusia, dan secara khusus menyatakan bahwa mereka bukan dari keturunan Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan
bertebaran di dalam Kitab Talmud, antara lain sebagai berikut :

Kerihoth 6b, “Menggunakan minyak untuk mengurapi. Rabbi kita mengajarkan,
‘Barangsiapa menyiramkan minyak pengurapan kepada ternak atau perahu, ia
tidak melakukan dosa; bila ia melakukannya kepada ‘goyyim’, atau orang mati,
dia tidak melakukan dosa. Hukum yang berhubungan dengan ternak dan perahu
adalah benar, karena telah tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam)
tidak boleh disiramkan (Exodus 30:32); karena ternak dan perahu bukan
manusia (Adam)’ “. “Juga dalam hubungan dengan yang meninggal (sepatutnya)
ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia menjadi bangkai dan bukan
manusia lagi (Adam). Tetapi mengapa terhadap ‘goyyim’ juga dikecualikan,
apakah mereka tidak termasuk kategori manusia (Adam) ?Tidak, karena telah
tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku, domba-domba di padang gembalaan-Ku adalah
manusia (Adam)’ (Ezekiel 34:31): Engkau disebut manusia (Adam), tetapi
‘goyyim’ tidak disebut sebagai manusia (Adam)’ “. Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi membahas hukum Talmud yang melarang
memberikan minyak suci bagi manusia. Dalam pembahasan itu para rabbi
menjelaskan bukanlah suatu dosa untuk membenkan miyak suci itu kepada
‘goyyim’ (kaum non-Yahudi, seperti muslim, Kristen, dan sebagainya), karena
‘goyyim’ tidak termasuk golongan manusia (harfiahnya: bukan keturunan Adam).

Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai menerangkan (61a)
bahwa kuburan orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat yang suci untuk
mendapatkan ‘ohel’ (memberikan sikap ruku’ terhadap kuburan), karena telah
dikatakan, wahai domba-domba-Ku yang ada di padang gembalaan-Ku, kalian
adalah manusia (Adam)’, (Ezekiel 34:31); kalian disebut manusia (Adam);
tetapi kaum kafir ltu tldak dlsebut manusia (Adam)’ “.

Hukum Talmud menerangkan bahwa seorang Yahudi yang menyentuh bangkai manusia
tau kuburan (Yahudi) menyebabkan ia ternajisi. Tetapi hukum Talmud
mengajarkan, sebaliknya, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim,
hal itu membuat ia tetap suci, karena orang goyyim tidak termasuk golongan
manusia (Adam).

Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah) berkata kepadanya: ‘Apakah engkau bukan
pendeta: mengapa engkau berdiri di atas kuburan ? Ia menjawab: ‘Apakah guru
belum mempelajari hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben
Yohai berkata:‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak menajisi. Karena telah tertulis,
‘Wahai gembalaan-Ku gembalaan di padang rumput-Ku adalah manusia (Adam), dan
ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.
Mengingat pembuktian berdasarkan nash Taurat (Ezekiel 34:31). disebut sampai
beru1ang-kali pada ketiga ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal dalam
kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan bahwa hanya orang Yahudi saja
yang termasuk golongan manusia. Para ‘hachom’ Talmud sangat menekankan
kekonyo1an ajaran mereka tentang kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti
bahwa mereka sebenarnya adalah rasis dan ideolog anti-kaum non-Yahudi, yang
dalam kebuntuan nalarnya telah mendistorsikan ayat-ayat Taurat dalam rangka
membenarkan kesesatan mereka. Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi memberikan hukuman cambuk kepada seseorang yang telah bersetubuh dengan seorang perempuan Mesir: Orang yang
dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada
seorang Yahudi yang memberikan hukuman cambuk tanpa izin dari pemerintah’.
Seorang petugas memerintahkan untuk memanggilnya (Shila). Ketika ia (Shila)
tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang ini?’ Ia (Shila) menjawab:
‘ Karena ia telah menyetubuhi keledai betina’ “. “Petugas itu berkata
kepadanya: ‘Apakah engkau mempunyai saksi-saksi?’ Ia(Shila) menjawab ‘Saya
mempunyainya’. Kemudian (nabi) Elijah turun dari langit dalam bentuk manusia
dan memberikan bukti. Petugas itu berkata lagi kepadanya: ‘Kalau demikian
halnya seharusnya orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami
telah diasingkan dari negeri kami, kami tidak mempunyai wewenang untuk
menjatuhkan hukuman mati; lakukanlah terhadapnya sesuai kehendak kalian’ “

“Ketika mereka masih mempertimbangkan perkara itu Shila pun berteriak.•
‘Kepada-Mulah ya Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa’ (Kisah-kisah 29:11).
‘Apa kehendakmu? tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab.• ‘Apa yang
kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha Pengasih yang telah menciptakan segala
sesuatunya dari tanah serupa dengan Yang di Sorga, dan telah memberikan
kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian mencintai keadilan’ “,

“Petugas itu berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah engkau sedemikian membantu
kepada kehormatan pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan
berkata kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi hakim. ‘ Tatkala petugas (orang
‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang yang ada disana berkata kepadanya
(Shila).• ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum pendusta?’.
Ia (Shila) menjawab mereka (‘goyyim’) disebut keledai? Karena telah
tertulis: Daging mereka adalah daging keledai’ (Ezekiel 23:30)

Ia (Shila) memperhatikan orang-orang itu akan memberi-tahukan
petugas-petugas itu bahwa ia (Shila) telah menyebut mereka sebagai keledai.
Maka ia (Shila) berkata.• ‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah
mengatakan: Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangkitlah segera dan
bunuh dia lebih dahulu. Begitulah tongkat yang diberikan kepadanya itu
dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya.’ Kemudian ia berkata: ‘Karena
sebuah mu’zizat telah terjadi melalui ayat ini, maka aku melaksanakannya’ “.

Bagian ini terpaksa diutarakan agak panjang, tetapi agaknya terpaksa dikutip
seluruhnya untuk memperlihatkan bagaimana kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai
tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke bumi untuk
menipu mahkamah kaum goyyim, disini Talmud mengajarkan, bahwa kaum ‘goyyim’
pada dasamya adalah binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi
Elijah) sama sekali tidaklah dapat disebut telah berdusta atau telah membuat
dosa. Ceritera itu menjelaskan bahwa sekiranya seseorang (termasuk orang
Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang kaum ‘goyyim’ sama
dengan keledai, maka ia akan menerima hukuman mati. Karena mengungkapkan hal
itu akan membuat kaum ‘goyyim’ murka dan akan menindas agama Yahudi.

Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel ini merupakan “nash bukti” sangat penting,
karena ayat itu menyatakan bahwa kaum ‘goyyim’ itu termasuk golongan
binatang (keledai). Ayat dari kitab Ezekiel pada Kitab Perjanjian lama telah
diubah dengan hanya mengatakan bahwa “orang Mesir memiliki kemaluan yang
besar” (sindiran – sama dengan keledai). Hal ini tidak membuktikan atau
menegaskan secara eksplisit bahwa orang Mesir yang dirujuk oleh Taurat sarna
dengan binatang. Dalam hal ini Talmud memalsukan Taurat dengan cara
mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang mengkaitkannya
dengan kitab Ezekiel 23:30 yang memperlihatkan watak rasis orang Yahudi
ditemukan dalam Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah 45a, Shabbath 150a, dan
Yebamoth 98a. Lagipula nash aseli Sanhedrin 37a hanya mengkaitkannya dengan
persetujuan Tuhan untuk penyelamatan kaum Yahudi saja.7

Moses Maimonides Membenarkan Pembantaian Begawan yang sangat dihormati, Moses Maimonides, mengajarkan tanpa tedeng aling-aling, bahwa kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh yang memberikan fatwa seperti itu memiliki kedudukan tertinggi dalam hirarki agama Yahudi.

Moses Maimonides dipandang sebagai penyusun hukum dan filosuf terbesar
sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali dengan penuh rasa hormat disebut
dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben Maimon,
yang artinya ‘Rabbi Kami Musa anak Maimun”.8 Inilah yang diajarkan oleh
Maimonides tentang boleh tidaknya menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau
bahkan’ orang Yahudi sekali pun yang berani menolak “inspirasi ilahiyah di
dalam Talmud’.

“Sesungguhnya bila kita melihat seorang kafir (‘goyyim’) sedang terhanyut
dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau kita melihat
nyawanya sedang terancam, kita tidak boleh menyelamatkannya.”9. Naskah dalam
bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981 tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang
sarna seperti itu.

Dengan peringatan dari Maimonides itu, telah diwajibkan bagi kaum Yahudi
untuk tidak boleh menyelamatkan nyawa atau memberikan pertolongan kepada
seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya menyatakan sikap kaum Yahudi yang sebenarnya
yang dibebankan oleh Talmud terhadap kaum non-Yahudi.

“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk , menghabisi para
pengkhianat kaum Yahudi, para ‘minnim’, dan “apikorsim” dan membuat mereka
jatuh ke dalam lobang kehancuran, karena mereka telah menyebabkan
penderitaan kepada kaum Yahudi, dan menipu manusia untuk menjauh dari Tuhan,
sebagaimana yang dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan para muridnya, dan
Tzadok, Baithos dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.

Komentar penerbit Yahudi itu memuat pernyataan Maimonides bahwa Nabi Isa
a.s. adalah contoh seorang ‘min’ (“pengkhianat” majemuknya ‘minnim’).
Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid Tzadok, yaitu kaum Yahudi
yang menolak kebenaran Talmud dan mereka yang hanya mengakui hukum tertulis,
yakni Taurat. Menurut buku ‘Maimonides’ Principles’ pada h.5, Maimonides
memerlukan waktu dua-belas tahun untuk menyimpulkan hukum dan keputusan dari
Talmud, dan mensistemasikan kesimpulannya itu ke dalam 14 jilid. Karya itu
akhirnya selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau
‘Syari’at Taurat’.

Maimonides mengajarkan pada bagian lain dari ‘Mishnah Torah’, bahwasanya
kaum ‘goyyim’ bukanlah golongan manusia: “Hanyalah manusia (kaum Yahudi),
dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan … Bangkai
dari seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan najis bila bersentuhan dengan
bayang-bayang seorang Yahudi … seorang ‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan
penajisan; dan bila seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau membayangi …
‘goyyim’ itu tidak menyebabkan najis … mayat seorang ‘goyyim’ tidak
menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya’” seorang ‘goyyim’ menyentuh,
membawa, atau menjatuhkan bayangannya kepada mayat, ia dianggap tidak pernah
menyentuh mayat tersebut.” .11 Film ‘Schindlers List’ – Contoh Kebohongan Kaum Yahudi

Teks Talmud (khususnya Talmud Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak mewajibkan
orang Yahudi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, terkecuali nyawa orang
Yahudi. Moshe Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa
buku yang ditulis oleh orang-orang Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-shas)
merujuk beberapa nash dari Talmud yang seolah-olah memuat frase nilai-nilai
universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan seseorang, hal itu sama
dengan membunuh seluruh isi dunia; dan barangsiapa memelihara kehidupan
seseorang ,,, hal itu seperti ia telah memelihara seluruh isi dunia”.
(Bandingkan dengan al-Qur’ an 5:32, “Barangsiapa yang membunuh seorang
manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena
membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia
seluruhnya”)

Namun Hesronot Ha-ash mengakui ayat-ayat di atas tadi bukan katta-kata yang
otentik dari Talmud yang aseli. Dengan kata lain, ayat-ayat bemada universal
tersebut bukanlah nash otentik dari Talmud. Jadi sekedar sebagai contoh,
“versi universal” ini yang oleh Stephen Spielberg dituangkan ke dalam
filmnya ‘The Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah
bersumber dari Talmud pada judul maupun iklan filmnya) adalah penipuan dan
merupakan propaganda, yang dimaksudkan untuk memberikan polesan kemanusiaan
kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab yang penuh berisi semangat
rasisme dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada
ayat yang sama, “Barangsiapa memelihara bahkan satu nyawa orang Israeli,
maka ia seperti memelihara seluruh isi dunia”. Sama seperti ayat-ayat yang
lain, Talmud yang aseli hanya membicarakan perihal menyelamatkan orang-orang
Yahudi.

Tipuan Orang Yahudi Sanggahan para rabbi orthodoks bahwa tidak ada bukti dokumentasi otentik tentang rasisme dan semangat kebencian di dalam Talmud adalah bohong besar,
karena di dalam Baba Kamma 113a, menyatakan bahwa “Orang Yahudi boleh
berbohong untuk menipu kaum ’goyyim’ ‘. The Simon Wiesenthal Center, sebuah pusat propaganda ruhubiyah Yahudi yang didukung oleh dana multi-jutaan dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena rabbi ini menentang ajaran dehumanisasi oleh Talmud terhadap orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-benar busuk”, katanya. Buktinya
? “Ya, pernyataan-pernyataan di dalamnya”. Berdusta untuk menipu orang ‘goyyim’ telah lama menjadi panutan di dalam agama Yahudi. Ambil contoh sehubungan dengan debat pada abad ke-13 di Paris antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang telah memeluk agama Katolik –
yang oleh Hyam Maccoby diakui mempunyai pengetahuan yang luas tentang
Talmud”12 -saat berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel. Pada waktu itu Yehiel
tidak sedang berada di bawah ancaman hukuman, atau dicederai. Namun tanpa
malu tetap saja berdusta sepanjang debat tersebut. Sebagai contoh ketika
ditanya oleh Donin apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam
Talmud, Yehiel menyanggahnya. Donin, seorang ahli dalam bahasa lbrani paham
benar jawaban itu dusta maka. Ryam Maccoby, seorang komentator Yahudi
mengenai debat tersebut, yang hidup di abad ke-20, membela kebohongan Rabbi
Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu mungkin diajukan, apakah Yehiel
benar-benar percaya yang Jesus tidak disebut-sebut di dalam Talmud atau,
bisa juga ia mengajukan pertanyaan ini sebagai suatu tipuan yang cerdik,
untuk menciptakan keadaan mendesak Yehiel … tentu saja Rabbi Yehiel dapat
dimaafjkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya
dipercayainya, dalam rangka mencegah proses tiranik yang menghadapkan budaya
dari suatu agama tertentu, terhadap agama yang lain”.13

Beginilah cara orang Yahudi menyanggah sampai dengan hari ini tentang adanya
nash Talmud yang mengandung ayat-ayat yang penuh dengan kebencian. Sebuah
kata tentang “kebohongan Yahudi diplesetkan dan disulap menjadi “dapat
dimaafkan”, sementara setiap penyelidikan terhadap kitab-kitab suci Yahudi
oleh peneliti non-Yahudi dipandang sebagai “proses tiranik”. Sementara itu
serangan kaum Yahudi terhadap kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan
al-Qur’an tidak pernah dianggap sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum
non- Yahudi yang dianggap tiranik, sedangkan cara mempertahankan diri bagi
orang Yahudi adalah berdusta. (Tidak semua orang Yahudi bersikap seperti
tersebut di atas. Dr. Israel Shahak dari Hebrew University menulis sebuah
buku lengkap yang diberinya judul ‘Jewish History, Jewish Religion’, yang
mendokumentasikan secara lengkap muatan anti-’goyyim’ di dalam kitab
Talmud).
Betapapun banyaknya sanggahan dan kebohongan yang keluar dari ‘The
Anti-Defamation League’ (ADL – ‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan dari the
Wiesenthal Center, dalam buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun
juga dari mufassir Talmud ‚paling’ terkemuka” di mata orang Yahudi sendiri,
seperti Moses Maimonides, Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx, direktur pendidikan teknologi terapan pada ‘Shalom Hartman Institute’ di Jerusalem, telah menulis semacam pengakuan
yang menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam telah
membuat dua jenis kumpulan kitab: kitab Talmud yang otentik sebagai bahan
pelajaran bagi para pemuda mereka di sekolah-sekolah (‘kollel’) Talmud, dan
sebuah lagi kitab Talmud yang telah “disensor dan diamendemen” yang
ditujukan bagi konsumsi para ‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-apa. Rabbi
Marx menjelaskan bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk
konsumsi umum, tertulis misalnya, “Barangsiapa membunuh seorang manusia, ia
telah melanggar hukum”. Tetapi Rabbi Marx menyatakan, nash yang aseli
berbunyi, ” Barangsiapa membunuh seorang Israeli”. Buku Hesronot Ha-shas (“Yang Dihilangkan dari Talmud”)15 lalu menjadi penting dalam kaitan ini. Heshronot Ha-shas dicetak-ulang pada tahun 1989 oleh Sinai Publishing House, Tel Aviv. Heshronot Ha-shas menjadi sangat berharga bagi kita, karena buku ini menyusun suatu daftar panjang ayat-ayat
Talmud yang diubah atau dihilangkan, dan daftar ayat-ayat yang dipalsukan
dewasa ini, yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat
itulah yang otentik. Popper (h.58-59) menjelaskan : “Tidak selalu yang disensor itu ayat-ayat
panjang, tetapi acapkali satu kata pun dihapus. … Acapkali dalam hal seperti
itu digunakan dalam rangka penghapusan dan penggantian”. Sebagai contoh
pentarjamah versi Talmud dalam bahasa Inggris terbitan Soncino
menterjemahkan kata lbrani ‘goyyim’ dengan sejumlah kata-ganti samaran
seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah berhala”, dan sebagainya. Tetapi
sebenarnya kata-ganti ini merujuk kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua yang
non- Yahudi). Pada catatan-kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan
bahwa, “Istilah orang Cuthea (Samaritan) disini adalah untuk menggantikan
kata-aseli ‘goyyim’ … “ Hal itu merupakan praktek disinformasi yang lazim dipakai oleh kaum Farisi untuk menyangkal adanya ayat-ayat yang rasialistik di dalam Talmud yang
telah diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa
ayat-ayat itu adalah “karangan dari orang-orang yang anti-Semit”.

Pada tahun 1994, Lady Jane Birdwood, berusia 80 tahun, ditangkap dan diadili
di depan pengadi1an pidana di London, hanya karena “kejahatannya”
menerbitkan sebuah pamflet berjudu1 ‘The Longest Hatred’ (‘Kebencian yang
Paling Lama’), berisi seluruh pernyatan kebencian di dalam Talmud yang
diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan
Kristen. Sepanjang peradilan yang dituduhkan terhadapnya sebagai suatu
kejahatan yang sayangnya tidak mendapatkan perhatian dari media massa,
seorang rabbi diundang sebagai saksi ahli. Rabbi itu menyanggah sepenuhnya
bahwa kitab Talmud berisi ayat-ayat yang mengundang kebencian kepada kaum
‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi
tersebut, wanita tua yang malang itu dijatuhi hukuman “tiga bulan kurungan
penjara dan denda senilai $ l000″ Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish Religion’, pada bab tentang Jesus di dalam Talmud pada h.57, dan h.105-106,
menegaskan adanya ayat-ayat yang menganjurkan kebencian dan rasisme di dalam
Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini adalah pembohong besar.

Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’ terhadap Talmud Dewasa ini ada persekongkolan yang kuat antara dunia Kristen dan Yahudi. Anehnya tidak ada, bahkan tidak pernah ada, para Paus, Katolik serta tokoh-tokoh gereja Protestan di era modern ini yang menyerang atau mengecam
ajaran rasisme di Talmud, atau kebencian mendarah-mendaging terhadap Kristen
dan kaum ‘goyyim’ (muslim dan lain-lain) yang diajarkannya. Sebaliknya pada
pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun Protestan, malah dewasa ini
menganjurkan kepada para pengikut Jesus Kristus untuk mentaati, menghormati,
bahkan membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak lain,
para pemimpin gereja Katolik dan Protestan dewasa ini sebenarnya adalah
pengkhianat paling nyata terhadap Jesus Kristus di muka bumi dewasa ini
(periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I Thessalonika 2:14-16; Titus
1:14; Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9).

Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’ Semua orang non-Yahudi dari segala ras dan agama menurut Talmud adalah super-sampah’, begitu menurut pendiri Habad-Lubavitch, Rabbi Shneur Zalman. Analisanya ditemukan di dalam majalah Yahudi ‚The New Republic’, yang dalam
analisisnya menyatakan bahwa, “… ada ironi besar dalam pandangan
universalisme messianik yang baru pada gerakan Habad khususnya pandangannya
tentang kaum ’goyyim’ yakni pernyataan Habad yang tanpa tedeng aling-aling
berisi penghinaan bernada rasial terhadap kaum ‘goyyim ‘. …berdasarkan
pendapat para theolog Yahudi pada abad pertengahan – terutama sekali
pemikiran penyair dan filosuf Judah Ha-Levi pada pada abad ke-12 di Spanyol,
dan tokoh mistik Yahudi Judah Loewe pada abad ke-16 di Praha – mereka
mencari ketetapan mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan
bukannya pada keunggulan kerohanian … menurut pandangan mereka, secara
mendasar kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras mana pun, dan mengenai hal
itu ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh Shneur
Zalman dari Lyadi. Pendiri Lubavitcher-Hasidisme itu mengajarkan, bahwa ada
perbedaan hakiki antara jiwa orang Yahudi dengan jiwa kaum ‘goyyim’,
bahwasanya hanyalah jiwa orang Yahudi yang di dalamnya terdapat dan
memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum ‘goyyim’,
Zalman selanjutnya menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya
memang lebih inferior. Jiwa mereka sepenuhnya jahat, tanpa mungkin
diselamatkan dengan cara apa pun.” Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’ menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya penyakit dalam jiwa mereka. Dzat darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat penuh dengan “sampah” rohani. Itulah sebabnya
mengapa jumlah mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah
lebih banyak daripada berasnya. Semua kaum Yahudi secara hakiki baik, dan
semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki jahat. “Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang dinyatakan secara hakiki jahat dan dari segi kerohanian maupun biologis lebih inferior dari kaum Yahudi, belum
pernah diralat dalam ajaran Habad masa kini”.16
Syari’at Yahudi Menuntut bahwa Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati
Para ulama Taurat menetapkan, bahwa, “Taurat mewajibkan bahwa ummat yang
benar akan mendapatkan tempatnya di Hari Kemudian. Tetapi, tidak semua kaum
‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun mereka taat dan
berlaku shaleh menurut agama mereka … Dan meskipun kaum Kristen pada umumnya
menerima Kitab Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari
Tuhan, namun mereka (disebabkan adanya kepercayaan pada apa yang disebut
mereka ketuhanan pada Jesus) sebenarnya kaum Kristen adalah penyembah
berhala menurut Taurat, oleh karena itu patut dihukum mati, dan mereka kaum
Kristen itu sudah dipastikan tidak akan memperoleh ampunan di Hari kemudian.”

Takhayul Kaum Yahudi Bukanlah mengada-ada bila edisi Talmud Babilonia dipanadang sebagai kitabsuci Yahudi yang paling otoritatif. Karena orang Kristen terperdaya oleh
para pengkhotbah Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta
fatwa kepada rabbi Yahudi sebagai “nara sumber yang shahih” untuk
mendapatkan keterangan bila berkaitan dengan kitab Perjanjian Lama, yang
tanpa mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal).

Yudaisme adalah agama kaum Farisi dan para pendeta Babilonia, yang menjadi
sumber ajaran Talmud dan Qabala, yang di kemudian hari membentuk agama
Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti ‘Kabbalah’, isinya
penuh dengan ajaran tentang astrologi, ramal-meramal, gematria, nekromansi
(sihir), dan demonologi (ilmu hitam). Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia
cukup mengangkat seekor ayam, membaca mantera untuk keperluan itu, dan
mengibas-kibaskannya di atas kepalanya untuk memindahkan dosa- dosanya
kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai hal ini tidak lain
adalah takhayul dalam arti yang sebenar-benarnya. Selanjutnya lambang Israel
yang mereka sebut sebagai “bintang Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut
pautnya dengan Nabi Daud a.s. Bintang itu adalah hexagram (bersudut enam)
supranatural yang melambangkan yantra dari androgen (kelenjar yang
memberikan karakteristik pada kaum laki-Iaki), yang dihubungkan dengan para
Khazar Bohemia pada abad ke-14. (Penyesatan publik dengan penggunaan nama
“negara Israel” yang didirikan pada tahun 1948, merupakan buah hasil
persekongkolan antara kaum Bolshevik-Yahudi dengan kaum Zionis yang atheis;
nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kelanjutan kerajaan Nabi Daud,
tetapi dikukuhkan melalui pcngakuan pertama di PBB yang diberikan oleh
diktator komunis Uni Sovyet Joseph Stalin).

Kaum Kristen akan lebih terbuka matanya bila berkunjung ke komunitas Yahudi
Hasidik menonton acara ‘Purim’, dimana sebuah patung serupa Halloween
meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara ‘Purim’ itu
merujuk kepada Kitab Esther yang disebutkan sebagai nash dasarnya, dalam
prakteknya upacara ‘Purim’ tidak lain adalah sebuah tradisi kaum kafir
Bacchan.17

Para rabbi orthodoks menggunakan kutukan, mantra, imej, dan sebagainya, yang
mereka anggap lebih besar kuasanya dari kuasa Tuhan. Kesesatan itu mereka
ambil dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaurn
Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat menyaksikan ulangan perilaku paganisme
Babilonia kuno setiap kali mereka mengamati ritual para rabbi agama
Yudaisme.18

Dengan mengetahui ajaran Talmud yang menjadi dasar konstitusi prinsip, dan
arah kebijakan negara dan pemerintah Israel, mudah dipahami mengapa negara
Israel sangat arogan dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman.

<http://bp0.blogger.com/_6JAmJngujkY/Ra1mZZq4JyI/AAAAAAAAAO0/cVGS7teM6NM/s1600-h/Talmud+%28babylonia+manuskrip%29.jpg

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

One Response to Kitab Talmud dan Yahudi

  1. NGEDOY mengatakan:

    YAHUDI AGAMA PALING BOSOK
    YAHUDI FUCK FOREFER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: