Nasional Demokrat dan Parsialisasi Politik


Apa ujungnya Gerakan Nasional Demokrat ?

Itulah sebenarnya yang sering berkecamuk di benak para pemerhati politik di seluruh Indonesia, Apakah mungkin menjadi sebuah Gerakan Masa saja tanpa punya pengaruh politik, Apakah mungkin Nasional Demokrat hanya mencari sensasi masal dengan menggalang berbagai kalangan dan ormas tanpa adanya satu cita-cita final yang dapat didedikasikan bagi negeri ini? terlalu mahal ongkos yang harus dibayar apabila tidak ada timbal baliknya!

Cerita di balik itu semua adalah seorang Surya Paloh, sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang Surya Paloh adalah penggerak utama dari gerakan Nasional Demokrat, tetapi kalau kita tarik ke belakang, apakah sebenarnya yang menjadikan seorang Surya Paloh mendeklarasikan Gerakan yang mempesona perhatian masa ini? Kita tentu masih ingat pada beberapa waktu yang lalu, bagaimana proses penyaringan calon ketua umum Golkar berlangsung, dimana Surya Paloh bersama Aburizal Bakrie bersaing ketat dalam memperebutkan kursi ketua umum, Apabila dilihat dari sisi ideologis tentulah seorang Surya Paloh jauh lebih pantas dari seorang Aburizal Bakrie, tetapi politik tak kenal siapa kamu dan siapa aku, yang ada adalah kepentingan, dan tentunya uanglah akhirnya yang memenangkan pergulatan tersebut dengan menunjuk Bakrie sebagai sang Pemenang.

 Mulai dari situlah Surya Paloh mulai meramu kekalahanya dari Aburizal Bakrie dengan melakukan politik eufimisme dengan mengedepankan pola idealisme dengan mendengungkan gerakan Restorasi Nasional, dimana Surya Paloh mendatangkan berbagai tokoh nasional mulai dari Sultan Hamengkubuwono X hingga Akbar Tanjung dan Megawati. Kalo cermat kita memperhatikan sebenarnya sudah nampak arah gerakan dari Surya Paloh tersebut, Beliau sedang menggabungkan dua kekuatan ideologi Nasional dengan meramu simbol kekuatan Nasional Demokrat dengan simbol warna biru dan kuning, dimana kita ketahui dalam Partai Golkar sedang mengalami perpecahan, sedangkan di tubuh partai demokrat sedang mengalami fase metamorfosa dari partai Ketokohan menjadi partai yang lebih terbuka dan modern, karena bagaimanapun Demokrat tidak lepas dari tokoh SBY yang menjadi magnet pemersatu, sedangkan di tubuh Golkar sebenarnya telah terjadi pepecahan, karena idealisme politik tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan uang selamanya.

Dari kondisi yang tergambar di atas dapat disimpulkan bahwa Nasional Demokrat sebenarnya ingin mengambil kue dari Golkar yang masih mempunyai idealisme politik, yang tersadarkan dari kungkungan politik uang dan dari Demokrat yang sebagian tidak sejalan dengan naiknya seorang Anas Urbaningrum yang mulai mencoba meninggalkan patronase politik ketokohan (SBY), apabila parsialisasi politik itu mampu dimanfaatkan oleh Surya Paloh, tentunya akan mejadi jalan mulus bagi Nasional Demokrat untuk menjadi Partai yang besar yang bersifat keIndonesia-an yang akan menjadi tumpuan masyarakat yang sudah lelah dengan hiruk pikuk politik uang dan sekterian yang telah  jauh dari cita-cita tulus Sang Pendiri Bangsa.

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: