Kemiskinan


Artikel di Koran Tempo, 14 Jun 2010

Koran TempoOpini

Setiap negara, kaya dan miskin, harus menjamin adanya pelayanan
kesehatan dasar yang universal, termasuk kelahiran anak yang aman,
vaksin, pemberantasan malaria, dan layanan klinis. Setiap tahun, hampir
9 juta anak meninggal karena keadaan yang sebenarnya bisa dicegah atau
diatasi, dan hampir 400 ribu wanita meninggal lantaran komplikasi
kehamilan. Hampir semua kematian ini terjadi di negara-negara miskin.
Mengakhiri kematian ini bukan hanya akan mengurangi penderitaan, tapi
juga mendorong kemakmuran ekonomi di negara-negara yang miskin dan
tidak stabil itu.

Rintangan terbesar untuk mencapai semua ini adalah negara-negara
miskin tak mampu menyediakan layanan kesehatan dasar itu, walaupun
biaya per orangnya sangat rendah. Dengan imunisasi, obat-obat modem,
diagnostika mutakhir, telepon seluler, dan teknologi-teknologi baru
lainnya, layanan kesehatan universal ini terbukti sangat efektif dan
tidak mahal, sekitar US$ 54 per orang per tahun di negara-negara
miskin. Namun, karena pendapatan di negara-negara miskin ini sangat
rendah, mereka hanya bisa membelanjakan sekitar US$ 14 per orang dari
anggaran belanja dan pendapatan mereka. Bantuan keuangan dari luar
negeri dibutuhkan untuk menutupi kekurangan sekitar US$ 40 per orang
per tahun ini.

Dengan adanya sekitar 1 juta masyarakat miskin yang masih
membutuhkan layanan kesehatan dasar, jumlah keseluruhan yang dibutuhkan
sekitar USS 40 miliar per tahun. Negara-negara donor-termasuk Amerika
Serikat, Uni Eropa, dan Jepang-saat ini menyumbang sekitar sepertiga
dari jumlah tersebut, yaitu sekitar US$ 14 miliar per tahun.Jadi sisa
kekurangan setiap tahun itu sekitar US$ 26 miliar. Dengan bantuan
sebesar itu, setiap tahun jutaan nyawa ibu dan anak dapat diselamatkan.
Jumlah uang ini tidak besar bagi negara-negara kaya, tapi mereka tak
juga menyediakan jumlah tersebut. Kekurangan paling nyata terdapat pada
Global Fund to Fight AIDS.Tubercu-losis, and Malaria, suatu prakarsa
global untuk menolong negara-negara miskin memerangi penyakit-penyakit
pembunuh tersebut.

Dana global ini sangat kekurangan uang, namun pemerintah Obama dan
pemerintah di negara-negara lainnya tidak merespons kebutuhan keuangan
ini.Negara-negara kaya sebenarnya dengan mudah bisa menyediakan dana
yang dibutuhkan ini.

Pertama, AS bisa mengakhiri perang yang mahal dan
gagal di Afganistan, yang menelan biaya sekitar US$ 100 miliar per
tahun. Jika AS memberikan sedikit saja dari jumlah USS 100 miliar itu
untuk program-program pembangunan di Afganistan, ia bakal lebih
berhasil mengusahakan perdamaian dan stabilitas di negara yang dilanda
perang tersebut.

Misalnya, AS bisa memberikan USS 25 miliar bantuan untuk pembangunan
setiap tahun dan USS 25 miliar lagi untuk kesehatan global, ia masih
punya USS 50 miliar setiap tahun untuk mengurangi defisit anggaran AS
sendiri. Afganistan, dan dengan demikian AS, akan lebih aman, dunia
lebih sehat, dan ekonomi AS akan memperoleh manfaat yang sangat
besar.
Pendekatan kedua adalah mengenakan pajak atas bank-bank
internasional yang besar, yang memperoleh keuntungan sangat besar dari
perdagangan yang spekulatif. Bahkan, setelah Wall Street nyaris
memorakporandakan ekonomi dunia, pemerintah AS masih juga mengeluselus
danmelindunginya, sehingga ia bisa kembali mengeruk keuntungan-mungkin
sebesar USS 50 miliar-tahun lalu.

Bankir-bankir Wall Street ini menerima bonus besar-lebih dari USS 20
miliar pada 2009. Uang sebanyak itu seharusnya diberikan kepada rakyat
miskin, bukan kepada bankir-bankir itu, yang jelas tidak pantas
menerimanya. Sudah waktunya kita mengenakan pajak internasional atas
laba bank-mungkin bisa dilaksanakan sebagai pungutan atas
transaksi-transaksi keuangan internasional-yang bakal menghasilkan
miliaran dolar setiap tahun. Untuk itu, negara-negara berkembang jangan
mau menerima excuse, alasan yang diberikan AS dan negara-negara lainnya
untuk melindungi para bankir mereka.

Pendekatan ketiga adalah mengusahakan sumbangan dari orang-orang
kaya di dunia. Beberapa di antara mereka, seperti Bill Gates, George
Soros, Warren Buffett, dan Jeffrey Skoll, sudah menunjukkan diri
sebagai megadermawan, yang memberikan komitmen bantuan besar untuk
kebaikan dunia. Namun miliarder-miliarder lainnya belum ada yang
memberikan sumbangan yang sebanding.

Menurut daftar yang baru-baru ini diter-bitkan majalah Forbes, ada
1.011 miliarder di dunia, dengan total nilai bersih kekayaan sebesar
USS 3,5 triliun. Ini artinya, jika setiap miliarder itu menyumbang 0,7
persen saja dari kekayaan bersih mereka, total jumlah yang bakal
terkumpul sebesar USS 25 miliar per tahun. Bayangkan, 1.000 orang kaya
bisa menjamin layanan kesehatan dasar untuk satu miliar orang miskin.

Pendekatan keempat adalah mengusahakan sumbangan dari perusahaan
seperti ExxonMobil, yang memperoleh penghasilan miliaran dolar setiap
tahun di Afrika, tapi, menurut salah satu laporan online perusahaan
ini, membelanjakan hanya sekitar USS 5 juta per tahun untuk program
pemberantasan malaria di Afrika dari 2000 sampai 2007. ExxonMobil bisa
dan seharusnya menyumbang lebih banyak untuk layanan kesehatan dasar di
benua ini, baik melalui royalti yang dibayar perusahaan atau dari
sumbangan bantuan korporat.

Pendekatan kelima bertolak dari negara-negara donor baru, seperti
Brasil, Cina, India, dan Korea, yang memiliki visi, energi, dan
kepentingan diplomatik untuk memperluas bantuan di negara-negara
miskin, serta di kawasan-kawasan yang masih dilanda kemiskinan di
negara mereka sendiri. Jika AS dan Eropa sudah enggan meningkatkan
bantuan, negara-negara yang saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang
pesat bisa menutup kekurangan ini. Untungnya, negara-negara donor baru
ini sekarang merupakan mitra yang dipercaya di Afrika.

Negara-negara kaya menyatakan tak memiliki uang untuk berbuat lebih
banyak, lapi sebenarnya yang tak mereka miliki adalah imajinasi, bukan
uang. AS harus mengalihkan belanja militer yang boros itu ke program
bantuan kesehatan yang baru. Dunia harus mengenakan pajak bank global.
Kaum miliarder harus meningkatkan kedermawanan mereka.
Perusahaan-perusahaan minyak harus menyumbang lebih banyak.
Negara-negara donor baru, seperti Cina, bisa mengisi kekosongan yang
ditinggalkan negara-negara donor yang lama.Uangnya tersedia. Kebutuhan
bantuan mendesak. Tantangannya adalah tantangan dari segi visi dan
moralitas.

Iklan

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: