Peran Bank Syariah Dalam Pengentasan Kemiskinan


kemiskinan menjadi masalah besar negeri ini. Penanggulangan kemiskinan menjadi prioritas pertama dari sembilan prioritas program kerja pemerintah pada tahun 2007. Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebanyak 37,17 juta orang (16,58 persen). Melihat dari angka kemiskinan yang sangat besar ini, sangat mustahil permasalahan ini bisa diatasi oleh pemerintah sendiri. Perlu peran serta masyarakat baik dari pihak swasta maupun LSM untuk saling membantu.

Pertanyaannya sekarang sejauhmana kehadiran perbankan syariah yang semakin semarak di tanah air ini mampu ikut berperan serta mengentaskan kemiskinan? Bank Syariah adalah tatanan sistem pengoperasian bank yang dilandasi oleh nilai-nilai syariah yang terkandung Al-Qur’an dan Hadits. Jelas dalam hadits dikatakan bahwa kefakiran (kemiskinan mendekati kekufuran).

Analoginya kemiskinan harus menjadi musuh utama bank syariah. Menurut Umar Chapra, bank syariah bukanlah semata-mata bank yang mengeliminasi sistem bunga dalam operasionalnya. Selain menolak konsep riba, menurutnya bank syariah juga harus melakukan peran yang berorientasi kesejahteraan-sosial (social welfare oriented).

Ada banyak keunggulan sistem bank syariah yang bisa dipergunakan untuk ikut serta memberantas kemiskinan ini dibanding bank konvensional, di antaranya:

Bank Syariah menjadikan debitur sebagai mitra usaha.

Perbankan syariah dengan prinsip bagi hasil (mengacu pada akad musyarakah dan mudharabah) meniscayakan adanya penanggungan risiko kerugian bersama baik pihak bank maupun debitur. Sistem ini akan menjadi konsekuensi bank syariah menjadikan debitur sebagai mitra usaha.

Keberhasilan usaha debitur menjadi indikator keberhasilan bank syariah. Sedangkan penerapan sistem bunga dalam dunia perbankan konvensional meniscayakan keuntungan yang pasti dari debitur dalam jumlah persen, meskipun debitur sendiri mengalami kerugian dalam usahanya. Dengan kata lain, bank tidak mau tahu dengan kesulitan yang dihadapi kliennya.

Keunggulan ini menjadi entry point bagi bank syariah menjadi lembaga keuangan yang bersahabat dengan masyarakat. Bank syariah harus pro aktif memberdayakan debiturnya baik dari segi peningkatan kinerja maupun pembinaan moral. Tim pemberdaya masyarakat harus menjadi divisi penting dalam bank syariah.

Kita bisa belajar dari Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian tahun 2006 lalu. Muhammad Yunus dan Grameen Bank menerima hadiah bergengsi dunia ini karena usahanya dalam mengangkat mereka yang miskin melalui kredit mikro (micro finance).

Kata kunci dari keberhasilan Muhammad Yunus adalah menjadikan debiturnya sebagai sahabat dengan tidak kenal lelah memberdayakan mereka. Ia tidak canggung berjalan kaki dari desa ke desa, guna menghadiri pertemuan mingguan Centre Meeting yang beranggotakan sekitar 40 orang nasabah Grameen Bank.

Selama ini bank syariah masih didominasi oleh pembiayaan murabahah. Pada bulan Juli 2007, pembiayaan murabahah (jual-beli) mencapai 60,67 persen dibandingkan dengan pembiayaan bagi hasil musyarakah (14,26 persen) dan mudharabah (20,50 persen).

Mencari pengusaha yang berkinerja tinggi sekaligus jujur menjadi kendala tersendiri bagi bank syariah untuk menyalurkan pembiayaan berbasis bagi hasil. Dengan semakin banyaknya pengusaha yang dibina secara kinerja dan moral oleh bank syariah, maka semakin tumbuh sektor riil berbasis bagi hasil dan secara otomatis kemiskinan pun akan semakin berkurang.

Bagi hasil sangat cocok untuk sektor pertanian dan kelautan.

Angka kemiskinan sebagian besar persentasenya berada di daerah pedesaan, yakni pada bulan Maret 2007 sebesar 63,52 persen. Sebagian besar penduduk miskin adalah mereka yang bergantung pada sektor pertanian seperti petani, nelayan, dan peternak.

Para petani, nelayan, pedagang kecil, buruh dan umat yang bekerja di sektor informal lainnya justru merupakan kelompok umat Islam yang lebih dominan jumlahnya di negeri ini. Inilah pangsa pasar terbesar yang menjanjikan dan sama sekali belum tergarap oleh dunia perbankan konvensional untuk saat ini.

Khusus kelompok ini, skema pembiayaan jual-beli (murabahah) tentu saja tidak cocok untuk dipraktekkan karena mereka rata-rata tidak memiliki aset yang cukup untuk dijadikan sebagai jaminan (collateral). Lagi pula, pada sektor-sektor pertanian secara umum, returnnya akan berdurasi untuk jangka waktu yang cukup panjang (long term).

Sudin Haroon, seorang pakar perbankan syariah Malaysia, menyimpulkan bahwa dengan menganalisa karakteristik sektor usahanya bisa dikatakan bahwa skema pembiayaan yang paling ideal untuk memberdayakan kelompok ini adalah skema pembiayaan bagi hasil. Musyarakah dan mudharabah).

Bank syariah harus mulai membidik kelompok ini dengan konsep pemberdayaan yang dimiliki. Bank syariah dapat menjalin kerjasama dengan pihak lain seperti Departemen Pertanian dan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Berkembangnya kegiatan pertanian dan ekonomi pedesaan akan meningkatkan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani, nelayan dan masyarakat pedesaan dalam rangka mendukung pengentasan kemiskinan serta industri pedesaan yang berkelanjutan.

Sektor pertanian dan kelautan memiliki peran strategis karena keterlibatan tenaga kerja besar dan outputnya memiliki nilai strategis karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Mengoptimalkan dana Qardhul Hasan

Salah satu kekhasan bank syariah adalah bahwa produk-produknya tidak saja berorientasi bisnis-komersial, tetapi juga mempunyai fungsi sosial (socio economical benefits). Pada bank syariah terdapat jenis pembiayaan yang dinamakan qardhul hasan (benevolent loan/pinjaman kebajikan), yaitu pembiayaan yang disalurkan tanpa imbalan apapun. Dana qardhul hasan bersumber dari pendapatan non halal (seperti bunga), denda, zakat, infaq dan shadaqah.

Pembiayaan qardhul hasan berupa fasilitas pembiayaan yang diberikan atas dasar kewajiban untuk tujuan saling tolong-menolong (ta’awun) dimana pihak peminjam hanya dituntut untuk mengembalikan pokok pinjaman, tanpa dikenakan tambahan maupun margin keuntungan, terkecuali peminjam sukarela melebihkan pembayarannya. Oleh bank syariah, kelebihan dan pengembalian dana selanjutnya dikembalikan lagi menjadi sumber dana pembiayaan qardhul hasan.

Dana ini bisa digunakan untuk membiayai peningkatan ekonomi dhuafa berupa modal kerja. Terutama pada para nasabah sektor menengah ke bawah yang masih sulit untuk mendapatkan bantuan dan pinjaman dari bank karena dianggap tidak bankable, seperti modal dagang kecil-kecilan, jual sayur keliling, servis sepatu dan kegiatan sejenisnya.

Apabila hal ini bisa dikelola dengan baik, maka akan menciptakan efek pada skala makro ekonomi. Pemberdayaan ekonomi umat skala kecil dengan konsep community empowerment (pemberdayaan masyarakat) merupakan solusi tepat mengatasi kemiskinan di masyarakat.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa bank syariah memiliki prinsip filosofis dan basis operasional yang terintegrasi dengan nilai-nilai sosial dan aktifitas ekonomi. Hampir semua tokoh-tokoh pemerhati sosial kemasyarakatan sepakat bahwa kemiskinan yang meningkat berdampak pada peningkatan angka kriminalitas, semakin rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan, dapat melahirkan radikalisasi atas kebijakan negara dan bahkan dapat menciptakan fundamentalisme dalam bergama.

Pemerintah harus punya komitmen yang kuat untuk segera mengatasi maslah kemiskinan bangsa ini. Marilah pemerintah untuk mulai menghadirkan bank syariah sebagai salah satu kunci utama pemecah masalah ini. (zar)

Sumber: Majalah Ekonomi Syariah, volume 6, no 26, 2008

Perihal simpelbisnis
I am make this blog for business and money

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: